Senin, 12 Maret 2018

What are Incoterms ?

What are Incoterms
Incoterms - a.k.a. Trade Terms are key elements of international contracts of sale. They tell the parties what to do with respect to carriage of the goods from buyer to seller, and export & import clearance. They also explain the division of costs and risks between the parties.
The difference between the 2000 and the 2010 version  is the number of Incoterms has been reduced from 13 to 11. Four Incoterms  (DAF, DES, DEQ, DDU) have been replaced by two new Incoterms  (DAT , DAP). The replaced Incoterms DAF, DES and DEQ were not used much in day to day trading.
At Wim Bosman we support both the Incoterms 2000 as the newly introduced Incoterms 2010. Please see below an overview of Incoterms and their version.

EXW - ExWorks (2000 and 2010)

This term represents the seller's minimum obligation, since he only has to place the goods at the disposal of the buyer. The buyer must carry out all tasks of export & import clearance. Carriage & insurance is to be arranged by the buyer.

FCA - Free Carrier (2000 and 2010)

This term means that the seller delivers the goods, cleared for export, to the carrier nominated by the buyer at the named place. Seller pays for carriage to the named place.

FAS - Free Alongside Ship (2000 and 2010)

This term means that the seller delivers when the goods are placed alongside the vessel at the named port of shipment. The seller is required to clear the goods for export. The buyer has to bear all costs & risks of loss or damage to the goods from that moment. This term can be used for sea transport only.
 

FOB - Free On Board (2000 and 2010)

This term means that the seller delivers when the goods pass the ship's rail at the named port of shipment. This means the buyer has to bear all costs & risks to the goods from that point. The seller must clear the goods for export. This term can only be used for sea transport. If the parties do not intend to deliver the goods across the ship's rail, the FCA term should be used.
 

CFR - Cost and Freight (2000 and 2010)

This term means the seller delivers when the goods pass the ship's rail in the port of shipment. Seller must pay the costs & freight necessary to bring the goods to the named port of destination, BUT the risk of loss or damage, as well as any additional costs due to events occurring after the time of delivery are transferred from seller to buyer. Seller must clear goods for export. This term can only be used for sea transport.
 

CIF - Cost, Insurance, Freight (2000 and 2010)

The seller delivers when the goods pass the ship's rail in the port of shipment. Seller must pay the cost & freight necessary to bring goods to named port of destination. Risk of loss & damage same as CFR. Seller also has to procure marine insurance against buyer's risk of loss/damage during the carriage. Seller must clear the goods for export. This term can only be used for sea transport.
 

CIP - Carriage and Insurance Paid (2000 and 2010)

This term is the same as CPT with the exception that the seller also has to procure insurance against the buyer's risk of loss or damage to the goods during the carriage. This term may be used for any mode of transportation.
 

CPT - Carriage Paid To (2000 and 2010)

This term means that the seller delivers the goods to the carrier nominated by him but the seller must in addition pay the cost of carriage necessary to bring the goods to the named destination. The buyer bears all costs occurring after the goods have been so delivered. The seller must clear the goods for export. This term may be used irrespective of the mode of transport (including multimodal).
 

DAF - Delivered At Frontier (2000)

This term means that the seller delivers when the goods are placed at the disposal of the buyer on the arriving means of transport not unloaded, cleared for export but not cleared for import, at the named point & place at the frontier - but before the customs border of the adjoining country. To be used when delivering to a land frontier.
 

DES - Delivered Ex Ship (2000)

Seller delivers when goods are placed at the disposal of the buyer on board the ship, not cleared for import at the named port of destination. The seller bears all costs & risks in bringing the goods to the named port before discharging. This term can only be used when the goods are to be delivered by sea.
 

DEQ - Delivered Ex Quay (2000)

This terms is the same as DES with the exception that the seller is responsible to place the goods at the disposal of the buyer, not cleared for import, on the quay (wharf) at the named port of destination. Seller bears all costs & risks as in DES plus discharging the goods on the quay. This term can only be used in sea transport.
 

DDU - Delivered Duty Unpaid (2000)

This term means the seller delivers the goods to the buyer, not cleared for import, and not unloaded from arriving means of transport at the named place of destination. The seller bears all costs & risks involved in bringing the goods to the named place other than "duty" (which includes the responsibility for customs formalities & payment of those formalities, duties & taxes) for import into the country of destination. Buyer is responsible for payment of all customs & duties & taxes.
 

DDP - Delivered Duty Paid (2000 and 2010)

This term represents maximum obligation to the seller. This term should not be used if the seller is unable to directly or indirectly to obtain the import license. The terms means the same as the DDU term with the exception that the seller also will bear all costs & risks of carrying out customs formalities including the payment of duties, taxes & customs fees.

DAT – Delivered at Terminal (named terminal at port or place of destination) (2010)

Seller pays for carriage to the terminal, except for costs related to import clearance, and assumes all risks up to the point that the goods are unloaded at the terminal.

DAP - Delivered At Place (named place of destination) (2010)

Seller pays for carriage to the named place, except for costs related to import clearance, and assumes all risks prior to the point that the goods are ready for unloading by the buyer.

Selasa, 06 Maret 2018

Neraca Perdagangan Surplus, Pertumbuhan Ekonomi RI Bakal Melonjak

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menguat jika pemerintah menstabilkan neraca perdagangan. Pada Januari lalu, tercatat neraca perdagangan negara mengalami defisit akibat kegiatan impor yang meninggi, melebihi ekspor non-migas yang sebenarnya juga naik.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan, neraca perdagangan masih akan mengalami defisit pada Februari nanti. Namun pada bulan setelahnya kemungkinan besar akan surplus. 

"Diproyeksikan, neraca perdagangan pada Maret dan April akan kembali surplus karena permintaan bahan baku dari negara tujuan ekspor semakin baik," ujarnya ketika dihubungi Liputan6.com di Jakarta, seperti dikutip Minggu (18/2/2018).
Surplus neraca perdagangan tersebut dapat menjadi pertanda bagus terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini.
"Sebuah sinyal bagus. Harapannya, ekspor ke depan bisa terus tumbuh 5-7 persen. Proyeksi Indef, pertumbuhan ekonomi 2018 membaik sedikit menjadi 5,1 persen," ungkap dia.
Selain karena meningginya kegiatan ekspor, dia mengatakan, peningkatan konsumsi rumah tangga dan keberadaan tahun politik 2018 juga akan menjadi faktor lainnya dalam pertumbuhan ekonomi negara.
"Konsumsi rumah tangga diproyeksi tumbuh 5 persen, lebih baik dari tahun lalu di 4,95 persen. Kemudian kinerja investasi tumbuh 7-8 persen. Belanja pemerintah di tahun politik juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.



Defisit pada Januari

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan Indonesia alami defisit US$ 670 juta pada Januari 2018. Indonesia alami defisit neraca perdagangan dengan sejumlah negara antara lain China, Thailand.
Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, ada surplus US$ 182 juta di sektor nonminyak dan gas (migas). Akan tetapi, impor naik sehingga tercatat defisit neraca perdagangan US$ 670 juta pada Januari 2018.
"Untuk nonmigas ada surplus US$ 182 juta, tapi terkoreksi dengan ada defisit migas. Sehingga total neraca perdagangan defisit pada 2018," kata Suhariyanto pada Kamis 15 Februari 2018. 
Ia menambahkan, neraca perdagangan Indonesia juga alami defisit sejak Desember 2017. Pada Desember 2017, Indonesia alami defisit US$ 0,27 miliar yang dipicu defisit sektor migas US$ 1,04 miliar. Namun neraca perdagangan sektor nonmigas surplus US$ 0,77 miliar. Suhariyanto mengharapkan defisit tidak terjadi pada Februari.
"Kami harap ini tidak terjadi lagi pada bulan berikutnya sehingga neraca perdagangan surplus," kata dia.
Suhariyanto menambahkan, neraca perdagangan Indonesia alami defisit dengan sejumlah negara antara lain China sebesar US$ 1,8 miliar, Thailand sebesar US$ 211 juta dan Australia sebesar US$ 178,2 juta.

Minggu, 04 Maret 2018

Kemenperin Akan Larang Impor Truk Bekas

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan menerapkan larangan impor truk bekas dari luar negeri. Hal ini sebagai ‎bentuk dukungan pemerintah terhadap pertumbuhan industri kendaraan di dalam negeri.
Payung hukum kebijakan tersebut, yaitu Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 34 tahun 2017 tentang Industri Kendaraan Bermotor Roda Empat atau Lebih.
Regulasi yang mulai berlaku pada Desember 2017 ini, antara lain mengatur mengenai skema importasi completely knock down (CKD) dan incompletely knock down (IKD).

    “Kami akan hentikan impor truk bekas untuk mendukung perkembangan industri truk, bus, dan kendaraan niaga lainnya di Indonesia. Apalagi industri kendaraan komersial di Tanah Air telah memiliki kapasitas produksi mencapai 200 ribu unit per tahun," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (1/3/2018).
    Dengan tersebut, lanjut dia, diharapkan bisa mendorong penjualan truk produksi dalam negeri. Selain itu, juga akan meningkatkan investasi di sektor otomotif, khususnya kendaraan komersial.
    “Diharapkan, adanya aturan itu akan lebih mendorong investasi dan produksi kendaraan bermotor, termasuk kendaraan komersial,” kata dia.

    1 dari 2 halaman

    Aturan Sebelumnya

    ‎Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Harjanto menyatakan, selama ini impor truk bekas memerlukan rekomendasi dari Kemenperin. “Untuk menghentikannya, tinggal kami tidak keluarkan rekomendasinya,” ungkap dia.
    Harjanto menyatakan impor truk bekas memang seharusnya tidak dilakukan lagi mengingat tidak ada yang bisa menjamin kondisi truk tersebut dari sisi emisi maupun keamanannya.
    “Itu kalau yang diimpor truk bekas, truk lama, itu kan emisinya tinggi. Sedangkan kita mau menurunkan emisi. Kemudian, soal keamanan, siapa yang tahu kalau itu misalnya remnya tidak blong. Makanya memang harus dihentikan," lanjut dia.
    Rencana ini mendapatkan sambutan positif dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi mengungkapkan, dibukanya impor truk bekas akan mematikan bisnis industri otomotif.
    “Kemampuan produksi truk di Indonesia sudah di atas 200 ribu per tahun. Sekarang penjualannya mencapai 80 ribuan per tahunnya," ucap dia.
    Padahal, kata dia, industri otomotif Indonesia sangat berkontribusi terhadap perekonomian nasional. “Harus diingat, bahwa secara total industri otomotif kita sudah mempekerjakan hingga 1,2 juta-1,4 juta orang. Kemudian juga, menyumbang pemasukan ke pemerintah sekitar Rp 100 triliun-Rp 120 triliun,” tandas dia.

    Melonjak 677 Persen pada Januari 2018

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Indonesia pada Januari 2018 mengalami peningkatan sebesar US$ 39 juta menjadi US$ 15,1 miliar atau 0,26 persen dibandingkan Desember 2017. Hal ini disebabkan karena kenaikan impor non migas yang nilainya sebesar US$ 457 juta atau naik 3,65 persen. Di sisi lain impor migas justru mengalami penurunan seebsar US$ 418 juta menjadi US$ 2,1 miliar. BACA JUGA Kadin: 93 Persen Barang di Situs Online Adalah Produk Impor Ekspor Perhiasan Indonesia Naik Drastis pada Januari 2018 Neraca Dagang RI Defisit US$ 670 Juta pada Januari 2018 Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kenaikan impor ini paling tinggi adalah kategori barang senjata dan amunisi. Banyaknya impor senjata disebabkan kebutuhan TNI dan Polri untuk memperkuat sistem pertahanan Indonesia mengalami peningkatan. "Senjata menjadi salah satu golongan barang yang mengalami kenaikan impor di periode Januari 2018 selain Kendaraan dan bagiannya, plastik dan barang dari plastik, baham kimia organik, mesin dan pesawat listrik," kata dia dikantornya, Kamis (15/2/2018). BPS mencatat kenaikan impor senjata dan amunisi mencapai 677,4 persen dibandingkan Desember 2017. Nilainya pada Desember 2017 sebesar US$ 13,3 juta namun pada Januari 2018 melonjak menjadi US$ 103,4 juta. Meski jika dibandigkan Desember 2017 mengalami penigkatan, namun jika dibandingkan Januari 2017, impor senjata dan amunisi mengalami penurunan 20,5 persen. 1 dari 3 halaman Impor Kendaraan Ekspor Mobil Naik 20 Persen pada Semester Pertama 2017 Sejumlah mobil yang siap diekspor di Tanjung Priok Car Terminal, Jakarta, Selasa (8/8). Kemenperin mencatat ekspor mobil CBU pada Semester I tahun meningkat 20,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2016. (Liputan6.com/Johan Tallo) Sementara untuk golongan kendaraan dan bagiannya, periode Januari 2018 BPS mencatat mengalami kenaikan 31,81 persen menjadi US$ 695,8 juta dari bulan sebelumnya US$ 527,9 juta. Sedangkan jika dibandingkan Januari 2017, impor golongan ini mengalami kenaikan 67,7 persen. Tak kalah tinggi kenaikan impor juga terjadi untuk kategori bahan kimia organi yang mengalami kenaikan 25 persen. Pada Desember 2017 impor golonga ini hanya US$ 451,9 juta menjadi US$ 564,9 juta. Sedangkan secara Year-on-Yearn, juga masih mengalami kenaikan 12,8 persen. Dari tingginya impor Indonesia pada Januari 2018 tersebut, Tiongkok masih menjadi negara penyumbang terbesar. Tercatat peran Tiongkok mencapai 28,94 persen. 2 dari 3 halaman Neraca Dagang Januari Defisit Ekspor Mobil Tahun Ini Ditargetkan Tumbuh 7 Persen-Jabar- Immanuel Antonius-20170223 Daya saing ekspor mobil Indonesia secara keseluruhan berada di peringkat 41 dunia, Jabar, Kamis (23/2). Sementara Thailand berada di peringkat 34 dunia, dan Malaysia di peringkat 25 dunia. (Liputan6.com/Immanuel Antonius) Untuk diketahui, BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia alami defisit US$ 670 juta pada Januari 2018. Indonesia alami defisit neraca perdagangan dengan sejumlah negara antara lain China, Thailand. Suhariyanto menuturkan, ada surplus US$ 182 juta di sektor non minyak dan gas (migas). Akan tetapi, impor naik sehingga tercatat defisit neraca perdagangan US$ 676 juta pada Januari 2018. "Untuk nonmigas ada surplus US$ 182 juta tapi terkoreksi dengan ada defisit migas. Sehingga total neraca perdagangan defisit pada 2018," kata Suhariyanto. Ia menambahkan, neraca perdagangan Indonesia juga alami defisit sejak Desember 2017. Pada Desember 2017, Indonesia alami defisit US$ 0,27 miliar yang dipicu defisit sektor migas US$ 1,04 miliar. Namun neraca perdagangan sektor nonmigas surplus US$ 0,77 miliar. Suhariyanto mengharapkan defisit tidak terjadi pada Februari. "Kami harap ini tidak terjadi lagi pada bulan berikutnya sehingga neraca perdagangan surplus," kata dia. Suhariyanto menambahkan, neraca perdagangan Indonesia alami defisit dengan sejumlah negara antara lain China sebesar US$ 1,8 miliar, Thailand sebesar US$ 211 juta dan Australia sebesar US$ 178,2 juta.

    Jumat, 08 September 2017

    Undername QQ

    Butuh undername QQ dengan harga terbaik, silahkan hubungi kami :

    Yohanes Saputra : 085210023774

    Jumat, 12 Mei 2017

    Gappmi Usul Bedakan Jalur Pemeriksaan Impor Bahan Baku dan Jadi

    Liputan6.com, Jakarta Pemerintah diminta untuk membenahi mekanisme arus keluar barang impor yang sudah masuk ke pelabuhan. Ini perlu dilakukan agar barang yang sudah masuk benar-benar memiliki standar sekaligus terjamin dari sisi keamanannya. Alasan lain, agar industri dalam negeri lebih terlindungi.
    Pemerintah bisa lebih mendahulukan bahan baku untuk keluar dari pelabuhan karena digunakan demi mendukung proses industri di dalam negeri. Artinya, ada proses memilih memilah sebelum barang keluar dari pelabuhan.
    "Percepatan impor dan penyederhanaan proses impor harus lebih diutamakan bahan baku. Meskipun secara regulations tidak bisa ada diskriminasi, namun bisa dibuat jalur berbeda antara bahan baku dan barang jadi," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman di Jakarta, seperti dikutip Kamis (11/5/2017).

    Bahkan, jika perlu ada jalur pemeriksaan tambahan, untuk produk-produk kategori konsumsi atau bahan pangan yang langsung konsumsi. "Jalur bahan baku dan produk jadi dipisah. Kemudian persyaratan produk impor pun harus diperketat demi keamanan konsumen di dalam negeri," ujar Adhi. 

    Hingga saat ini, industri sektor makanan minuman lebih mampu menahan gempuran produk impor. Kalau pun ada impor, nilai dan volumenya sangat kecil.
    Meski data BPS menyebut ada lonjakan barang konsumsi, hal itu tak berlaku untuk sektor makanan minuman. "Kalau sektor mamin saya lihat memang tidak ada lonjakan," dia menjelaskan.
    Industri makanan dan minuman, Adhi menegaskan, saat ini sudah menjadi tuan di dalam negeri sehingga tidak khawatir dengan serbuan impor. Tak heran, produk impor jadi di sektor ini pun presentasinya sangat sedikit.
    Alhasil, jika konsumsi dalam negeri terus naik didorong pertumbuhan ekonomi membaik, industri mamin dalam negeri siap memenuhi setiap kenaikan permintaan.
    "Industri sangat siap. Karena mamin ada filter rasa selera dan budaya. Sehingga relatif lebih sulit mamin global menyerang masuk. Perkiraan impor mamin jadi sekitar 7 persen dari total peredaran dalam negeri," tegas Adhi.
    Untuk itu, industri berharap pemerintah benar-benar memperhatikan dan menerapkan perlindungan sekaligus juga menghilangkan berbagai hambatan yang memberatkan pengusaha. Mulai dari regulasi, birokrasi, hingga masih besarnya suku bunga untuk industri.
    "Suku bunga. Regulasi yang kurang kondusif. Memang ada deregulasi. Tapi ada juga regulasi baru. Misal soal sertifikasi halal, wacana cukai ke industri, hingga Pengenaan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) terhadap impor bahan baku kemasan plastik Polythelen Terephalate (PET) dan lain-lain," kata dia.
    Ia berharap, pemerintah benar-benar memperhatikan masukan industri dan bisa bersinergi. Jangan lagi ada kementerian mendukung, sebagian lagi menolak, atas masukan yang diberikan industri. Sudah seharusnya pemerintah benar-benar membuktikan keberpihakan pada industri nasional.
    "Pemerintah harus lebih meningkatkan koordinasi dengan menjadikan national Interest dan daya saing di pasar global sebagai pedoman," ujar Adhi.
    Kebijakan impor harus disinergikan dengan dukungan nyata pada industri sebagai sektor penyerap tenaga kerja besar. Impor jangan lagi dimaknai membuka pintu untuk semua barang masuk leluasa.

    Kemendag Bakal Atur Impor Bawang Putih

    Liputan6.com, Jakarta Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah menyusun Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) untuk mengatur impor bawang putih . Selama ini impor komoditas tersebut tidak diatur secara detail sehingga sulit untuk diawasi.

    Sekretaris Jenderal Kemendag Kiryanto Supri mengatakan, tidak seperti komoditas pangan lain, tata niaga bawang putih termasuk ekspor-impor selama ini tidak diatur. Sehingga importir bisa secara bebas mengimpor bawang putih tanpa adanya ketentuan mengenai jenis dan jumlahnya.



    "Kan sekarang tata niaganya belum diatur. Sekarang sedang dibuat pengaturannya, yang namanya ekspor impor kan wewenang Kemendag. Kita sekarang sedang menyusun Permendag-nya untuk bawang putih," ujar dia di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (5/5/2017).

    Dalam Permendag tersebut, lanjut Karyanto, nantinya akan ditentukan jenis, kualitas dan kuota impor yang diberikan. Namun hal tersebut masih dalam pembahasan lebih lanjut di internal Kemendag.

    "Nanti kita atur, spesifikasinya seperti apa, berapa yang mesti masuk. Kalau Permentan (Peraturan Menteri Pertanian) kan atur soal karantinanya, ini harus connected. Kita dari ekspor-impornya," kata dia.

    Dengan adanya Permendag ini, diharapkan pemerintah bisa memastikan kebutuhan bawang putih di dalam negeri, baik untuk industri atau rumah tangga. Juga diharapkan bisa mendorong petani untuk meningkatkan produksi bawang putih di dalam negeri.

    "Kita inginnya semua ini produk dalam negeri, ini kita hitung. Kalau kita nggak ada ya berapa kurangnya. (Penerbitan Permendag) Ya segera lah," tandas dia.